Jumat, 09 Juli 2010

RENUNGAN KISAH NYATA KEHIDUPAN : KEBAHAGIAAN IBU

Mengapa aku dulu sering membuatnya marah ?
Ini adalah sebuah kisah yang dituliskan oleh seorang teman...silahkan dinikmati

“Nak, bangun… udah subuh. Sarapanmu udah ibu siapin di meja…”
Tradisi ini sudah berlangsung 20 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat. Walaupun sekarang aku sudah berkeluarga.
Kini usiaku sudah kepala 3 dan aku jadi seorang Dosen disebuah Instansi Pendidikan, tapi kebiasaan Ibu tak pernah berubah.
“Ibu sayang… ga usah repot-repot Bu, aku udah dewasa.” pintaku pada Ibu pada suatu pagi. Biar aku yang menyiapkan sarapan untuk ibu. Wajah tua itu langsung berubah.

Pun ketika Ibu mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya. Ingin kubalas jasa Ibu selama ini dengan hasil keringatku. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.

Kenapa Ibu mudah sekali sedih ? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami Ibu karena dari sebuah artikel yang kubaca .. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak ….. tapi entahlah…. Niatku ingin membahagiakan malah membuat Ibu sedih. Seperti biasa, Ibu tidak akan pernah mengatakan apa-apa.

Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya “Bu, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan Ibu. Apa yang bikin Ibu sedih ?”

Kutatap sudut-sudut mata Ibu, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata Ibu berkata, “Tiba-tiba Ibu merasa kamu tidak lagi membutuhkan Ibu. Kamu sudah dewasa, sudah berkeluarga, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Ibu tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kamu, Ibu tidak bisa lagi jajanin kamu. Semua sudah bisa kamu lakukan sendiri”

Ah, Ya Allah, ternyata buat seorang Ibu .. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.

Diam-diam aku merenung . Apa yang telah kupersembahkan untuk Ibu dalam usiaku sekarang ? Adakah Ibu bahagia dan bangga pada putrinya ini ? Ketika itu kutanya pada Ibu. Ibu menjawab “Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kamu berikan pada Ibu. Kamu tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan.
Kamu berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat Ibu. Kamu berprestasi di pekerjaan dan sekarang sedang melanjutkan kuliah S3 walaupun nun jauh diseberang pun adalah kebanggaan buat Ibu. Kamu bahagia dengan suamimu adalah kebahagian ibu.

Setelah dewasa, kamu berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat Ibu. Setiap kali binar mata kamu mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua.” Ibu tak pernah lupa mendoakanmu nak disepanjang hidup ibu.

Lagi-lagi aku hanya bisa berucap “Ampunkan aku ya Allah kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada Ibu. Masih banyak alasan ketika Ibu menginginkan sesuatu.” Betapa sabarnya Ibuku melalui liku-liku kehidupan. Sebagai seorang wanita karier seharusnya banyak alasan yang bisa dilontarkan Ibuku untuk “cuti” dari pekerjaan rumah atau menyerahkan tugas itu kepada pembantu. Tapi tidak! Ibuku seorang yang idealis.

Menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Pukul 3 dinihari Ibu bangun dan membangunkan aku untuk berdoa Menunggu subuh Ibu ke dapur menyiapkan sarapan sementara aku sering tertidur lagi…
Ah, maafin aku Ibu … 18 jam sehari sebagai “pekerja” seakan tak pernah membuat Ibu lelah.. Sanggupkah aku seperti ibuku ya Allah ?

“Nak… bangun nak, .. sarapannya udah Ibu siapin dimeja.. “

Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul Ibu sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan “terimakasih Ibu, aku beruntung sekali memiliki Ibu yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan Ibu…”.

Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. .. Cintaku ini milikmu, Ibu… Aku masih sangat membutuhkanmu. .. Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat Dirimu..

Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat “aku sayang padamu… “, namun begitu, kadang kata2 itu memang harus diucapkan untuk mempererat ikatan batin kita dengan orang yang kita cintai

Ibu dan ayah walau mereka tak pernah meminta, percayalah.. . kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia. Kini Ibuku tinggal sendirian, Ayahku telah mendahuluinya kembali kepda sang penciptai. Tapi aku tak pernah lupa untuk menelponnya walaupun hanya sekedar menanyakan apa kabar dan kesehatannya.

Seandainya ayahku masih ada mungkin ibuku tak merasa kesepian seperti saat ini. Maklumlah diantara kami bersaudara akulah yang paling disayang ayah dan terkadang membuat iri kakak kakakku. Ibuku selalu berkata nak..mukamu mirip ayahmu, Ibu jadi teringat ayahmu bila memandang wajahmu nak..
Oh…ibu jangan sedih lagi…hancur hatiku mendengarnya

PESAN SPONSOR :
“Ya Allah,cintai Ibuku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan Ibu…dan untuk membuat dia benar -benar bangga terhadap aku anak yang sudah dibesarkan dengan penuh kasih dan dengan cinta yang tulus ,ibu engkau berkata kebahagiaanku adalah kebahagianmu juga.hari ini aku berjanji , dengan sekuat tenaga dan dengan segala cara aku ingin membahagiakan ibu, karena kebahaagiaan iibu yg membuat aku bisa hidup bahagia didunia ini ...terima kasih ibu atas semua cintamu...

Jumat, 18 Desember 2009

Sebuah cangkir yang cantik......

Cangkir yang Cantik

Sepasang kakek dan nenek pergi belanja di sebuah toko suvenir untuk mencari hadiah buat cucu mereka. Kemudian mata mereka tertuju kepada sebuah cangkir yang cantik. “Lihat cangkir itu,” kata si nenek kepada suaminya. “Kau benar, inilah cangkir tercantik yang pernah aku lihat,” ujar si kakek.

Saat mereka mendekati cangkir itu, tiba-tiba cangkir yang dimaksud berbicara “Terima kasih untuk perhatiannya, perlu diketahui bahwa aku dulunya tidak cantik. Sebelum menjadi cangkir yang dikagumi, aku hanyalah seonggok tanah liat yang tidak berguna. Namun suatu hari ada seorang pengrajin dengan tangan kotor melempar aku ke sebuah roda berputar.

Kemudian ia mulai memutar-mutar aku hingga aku merasa pusing. Stop ! Stop ! Aku berteriak, Tetapi orang itu berkata “belum !” lalu ia mulai menyodok dan meninjuku berulang-ulang. Stop! Stop ! teriakku lagi. Tapi orang ini masih saja meninjuku, tanpa menghiraukan teriakanku. Bahkan lebih buruk lagi ia memasukkan aku ke dalam perapian. Panas ! Panas ! Teriakku dengan keras. Stop ! Cukup ! Teriakku lagi. Tapi orang ini berkata “belum !”

Akhirnya ia mengangkat aku dari perapian itu dan membiarkan aku sampai dingin. Aku pikir, selesailah penderitaanku. Oh ternyata belum. Setelah dingin aku diberikan kepada seorang wanita muda dan dan ia mulai mewarnai aku. Asapnya begitu memualkan. Stop ! Stop ! Aku berteriak.

Wanita itu berkata “belum !” Lalu ia memberikan aku kepada seorang pria dan ia memasukkan aku lagi ke perapian yang lebih panas dari sebelumnya! Tolong ! Hentikan penyiksaan ini ! Sambil menangis aku berteriak sekuat-kuatnya. Tapi orang ini tidak peduli dengan teriakanku.Ia terus membakarku. Setelah puas “menyiksaku” kini aku dibiarkan dingin.

Setelah benar-benar dingin, seorang wanita cantik mengangkatku dan menempatkan aku dekat kaca. Aku melihat diriku. Aku terkejut sekali. Aku hampir tidak percaya, karena di hadapanku berdiri sebuah cangkir yang begitu cantik. Semua kesakitan dan penderitaanku yang lalu menjadi sirna tatkala kulihat diriku.

***

Sahabat, dalam kehidupan ini adakalanya kita seperti disuruh berlari, ada kalanya kita seperti digencet permasalahan kehidupan. Tapi sadarlah bahwa lakon-lakon itu merupakan cara Tuhan untuk membuat kita kuat. Hingga cita-cita kita tercapai. Memang pada saat itu tidaklah menyenangkan, sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Tetapi inilah satu-satunya cara untuk mengubah kita supaya menjadi cantik dan memancarkan kemuliaan.

“Sahabat, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai pencobaan, sebab Anda tahu bahwa ujian terhadap kita menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang supaya Anda menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”

Apabila Anda sedang menghadapi ujian hidup, jangan kecil hati, karena akhir dari apa yang sedang anda hadapi adalah kenyataan bahwa anda lebih baik, dan makin cantik dalam kehidupan ini.

Rabu, 18 November 2009

BELAJAR